Diving (From and) For Dummies

Into the deep we go!

Into the deep we go!

Biasanya tulisan dengan embel-embel “for dummies” ditulis oleh ahlinya dengan bahasa yang dipahami oleh para pemula. Namun sayangnya saya bukan. Jadi, maaf kalau yang sudah sampai di postingan ini dan mengharapkan seorang dive master yang bertitah, alih-alih menemukan penyelam amatir yang berbicara hehehe. Tetapi justru itu, saya yang masih amatir ini ingin membagi pengalaman saya sebagai penyelam pemula. Siapa tahu bisa membuat orang-orang yang penasaran dengan diving tapi masih ragu-ragu, bisa menetapkan hati dan memutuskan untuk ambil dive course hehehe.

Perkenalan saya dengan dunia diving sebenarnya diawali pada tahun 2011 di Pacific Place (PP), sebuah mall di bilangan Sudirman, Jakarta. Pasti membuat orang bertanya-tanya kok perkenalan saya dengan diving malah di mall bukannya di laut? Jadi waktu itu saya sedang berkunjung ke PP, dan mendapati sebuah tangki air besar seperti aquarium raksasa. Ternyata tangki itu milik Divemaster, sebuah sekolah selam di Jakarta Selatan. Mereka sedang membuka stand di PP untuk program Discover Scuba. Discover Scuba ini diadakan gratis (waktu itu) untuk yang ingin mencoba sensasi diving. Singkat cerita, saya merasa senang menyelam dan akhirnya saya memantapkan hati untuk mengambil dive course di awal tahun 2012.

My first encounter with diving

My first encounter with diving

Diving? Tapi gue nggak bisa berenang nih. Gimana dong? Mungkin tidak sedikit yang memiliki anggapan seperti itu. Menurut saya, bisa berenang bukan faktor penentu utama dalam diving. Berdasarkan dari apa yang saya rasakan maupun dengan dari cerita teman-teman diving saya, saya menyimpulkan bahwa faktor yang paling penting adalah: nyaman berada di dalam air. Nyaman bergerak dalam air, nyaman melakukan sesuatu dalam air, nyaman melihat (dengan kacamata) dalam air, nyaman bernapas (dengan alat bantu) dalam air, nyaman berada dalam air dalam waktu yang cukup lama. Kalau bisa berenang namun ternyata tidak nyaman berada di kedalaman tertentu untuk waktu yang cukup lama, mungkin faktor bisa berenang tidak akan membantu juga dalam diving. Tetapi tentunya kemampuan berenang dapat membantu dalam belajar diving, karena umumnya bisa berenang menjadikan orang tersebut nyaman berada dalam air.

Ada beberapa hal yang pada awalnya tidak biasa dilakukan, bahkan mungkin akan membuat tidak nyaman ketika pertama kali diving. Pertama, bernapas menggunakan mulut. Tidak semua orang biasa bernapas menggunakan mulut. Di awal-awal saya kursus pun terkadang saya refleks mengambil napas melalui hidung. Tentunya tidak bisa karena lubang hidung terhalang oleh kacamata selam (mask). Dan kaget merasa tidak bisa bernapas, lalu teringat kalau alat bantu napas terpasang di mulut hehehe.

Kedua, menggigit benda dalam waktu yang cukup lama. Selama diving, kita bernapas melalui mulut dengan menggunakan regulator. Regulator tidak hanya dimasukkan ke dalam mulut tetapi juga digigit untuk memastikan regulator firm terpasang dan tidak mudah lepas. Meskipun regulator berbahan karet sehingga tidak keras untuk digigit, tetap saja akan membuat rahang capek dan berasa kaku karena harus menggigit dalam waktu yang tidak sebentar.

Yang ketiga, menggerakkan kaki dengan perlahan. Umumnya ketika diving, gerakan kaki yang dilakukan serupa dengan gerakan kaki ketika berenang gaya bebas. Sebaiknya gerakan kaki dilakukan secara perlahan, karena agak sulit untuk mengayuhkan kaki dengan cepat ketika menggunakan fin (ada yang menyebutnya sepatu katak). Lagipula, gaya dorong kaki juga dibantu dengan kibasan fin seiring dengan gerakan mengayuh yang kaki kita lakukan. Nah, ini yang terkadang sulit dilakukan oleh perenang. Biasanya perenang refleks untuk mengayuhkan kakinya dengan cepat dalam melakukan gaya bebas. Jika kita mengayuhkan kaki dengan cepat selama diving, akan membuat kita lebih cepat lelah dan kemudian berefek kepada napas kita yang lebih boros, membuat stok udara di tabung selam (tank) kita lebih cepat habis. So, move gracefully.

Kemudian yang keempat, bernapas dengan perlahan. Terkadang tanpa sadar kita bernapas dengan cepat dan pendek. Ini yang sebisa mungkin dihindari ketika divingInhale and exhale slowly, take a deep breath. Dengan mengatur napas bisa membuat penggunaan stok udara tank kita lebih hemat, dan somehow membuat gerakan kita menjadi lebih teratur. But, always keep this in mind, DO NOT ever hold your breath. It’s the first rule of safe diving. Menahan napas dapat berakibat buruk bagi internal tubuh kita.

Sebenarnya masih banyak tips maupun aturan yang harus dilakukan ketika diving. Namun sepertinya seorang dive master lebih bisa memberikan penjelasan konsep yang lebih menyeluruh. Sedangkan saya sendiri masihlah seorang penyelam amatir hehehe. Kenapa lebih baik dive master yang menjelaskan lebih banyak? Layaknya olahraga yang memiliki risikonya masing-masing, diving juga memiliki risikonya sendiri dan cukup berbahaya. Ketika diving kita bergantung kepada sebuah life-support system selama berada di dalam air. Peralatan yang mungkin terkadang tidak bisa kita andalkan sepenuhnya, apalagi jika terjadi malfungsi. Terlebih lagi kita berada di dalam laut lepas. Suatu alam bebas, dimana situasi dan kondisinya tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya, dan tentunya kekuatan alam lebih besar daripada kekuatan manusia dan tidak bisa diremehkan. (makanya yuk kita jaga alam rame-rame ya 😉 ) Tentunya ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi berbagai kondisi yang mungkin terjadi selama menyelam. Tapi kalau kita tidak bisa berpikir jernih selagi di dalam air, hal-hal tersebut mungkin tidak akan terpikirkan dan bisa jadi kita bertindak sembrono, yang malah semakin membahayakan kita. Maka dari itu nyaman berada di dalam air menjadi faktor yang sangat penting dalam diving.

Diving di Karimunjawa dengan teman kantor saya: Eveline dan Tita

Diving di Karimunjawa dengan teman kantor saya: Eveline dan Tita

Diving di Bunaken dengan teman kuliah saya: Echa, Aji, Dita, dan Gita

Diving di Bunaken dengan teman kuliah saya: Echa, Aji, Dita, dan Gita

Tapi terlepas dari ketidaknyamanan dan risiko yang dihadapi, diving memberikan saya kesenangan dan kepuasan tersendiri. Memang pada dasarnya saya adalah pecinta alam ya, jadi melihat deretan coral, ratusan ikan berkeliaran, penyu berenang di alam bebas, memberikan saya excitement tersendiri. And I find it relaxing for me. Being underwater gives me comfort; its own definition of comfort. And also, diving makes me look cool 😎 Hahaha!

dive in silence

Dive in solitude

Jadi gimana? Tertarik untuk ambil dive course dan memiliki dive license kamu sendiri? Kalau sudah yakin, cukup banyak penyelenggara dive course di Jakarta dengan harga yang beragam yang bisa kamu pilih. Marischka Prudence, seorang travel blogger, pernah share di dalam blog-nya di sini. Kalau masih ragu tapi penasaran mau coba, bisa ikut program semacam discover scuba dulu. Setahu saya program ini rutin ada setiap weekend di kolam renang Senayan. Salah satu yang menyelenggarakan adalah Divemag Indonesia dengan program “Try Scuba”-nya.

Ada satu anonymous quote tentang diving yang saya suka tapi cukup provokatif.

“70% of earth is covered by water. Non diver? I hope you enjoy your 30%. Learn to dive!”

Jadi yuk mari kita diving! 😀

*photo courtesy of: Aji, Echa, Renold, operator selam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s