10 Hal (Yang Mungkin Kamu Belum Tahu) Tentang Yangon

opening yangon

Mingalabar! Welcome to Yangon!

Sekitar akhir bulan Februari lalu, saya mendadak disuruh menghadiri meeting di Yangon, Myanmar, oleh bos saya. Kenapa saya? Alasannya cukup sederhana; karena saya belum dapat giliran untuk menghadiri meeting tersebut yang memang lanjutan dari meeting serupa di tahun sebelumnya. Lalu kenapa mendadak? Karena saya baru diberitahu hari Selasa sore, sedangkan hari Minggu pagi saya sudah harus berangkat. Dari Selasa ke Minggu kan masih ada 5 hari, terus kenapa dibilang mendadak? Mungkin masih terlihat ada jeda waktu ya. Tapi mengingat ada serangkaian proses administrasi yang harus dilalui supaya saya bisa berangkat, mulai dari mengajukan persetujuan keberangkatan hingga pengurusan exit permit paspor dinas,maka jatah waktu 5 hari menjadi sangat mepet, apalagi hari kerjanya cuma sisa 3 hari.

Singkat cerita (daripada saya keterusan curhat tentang keribetan saya mengurus keberangkatan ke Yangon), mendaratlah saya di Yangon International Airport. Akhirnya saya menjejakkan kaki di negara lain di ASEAN. Itulah yang pertama kali melintas di otak saya ketika turun dari pesawat di bandara. Dan saya pikir, pasti ada hal menarik dari setiap kota atau negara yang baru kamu kunjungi. Benar saja, mulai dari bandara pun saya sudah mulai menemukan hal yang mungkin nggak ada di negara lain. Dan inilah 10 hal yang cukup menarik (dan mungkin kamu belum tahu) buat saya selama di Yangon.

1. Not-so-big international airport

airport1

Yangon International Airport

Untuk ukuran sebuah bandara internasional yang juga jadi gerbang utama masuk ke Myanmar, Yangon International Airport ini bisa dibilang cukup kecil. Summarecon Mal Bekasi1 saja kayaknya masih lebih besar. Tapi mengingat, menimbang dan memperhatikan bahwa Myanmar baru saja “membuka diri” dalam beberapa tahun terakhir ini, maka saya memutuskan ukuran bandara yang tidak begitu besar ini adalah hal yang wajar dan dapat diterima akal sehat saya. *apa sih nu*

airport2

Le boarding room

1Buat yang belum tahu, Summarecon Mal Bekasi adalah mal baru di Bekasi yang sedang hits saat tulisan ini dibuat.

2. Kyaaat!

kyat

K 200, setara Rp 2200

Bukan, “kyaaat” di sini bukan backsound orang saat olahraga pencak silat. Maksud saya adalah mata uang lokal Myanmar, yaitu Kyat. Ketika saya ke sana, nilai 1 kyat itu sekitar Rp 11. Dan saya pikir pronounce-nya benar-benar “kyat”, tapi ternyata disebutnya “chat”, dengan huruf a bukan e seperti pronounciation “chat” dalam bahasa Inggris. *bingung nggak? nggak lah ya*

Saya kurang tahu apakah ada Kyat dalam bentuk koin atau tidak. Selama 3 hari saya di Yangon saya hanya menemukan Myanmar Kyat dalam bentuk uang kertas, paling besar pecahan K10.000. Kalau ada yang dapat, sisain satu ya, saya mau! *malah minta*

3. Nggak ada Kyat? USD aja!

Kalau suatu waktu kamu lagi naik taksi di Yangon, lalu pas mau turun dan bayar ternyata kamu nggak pegang Kyat pecahan kecil dan malah punya recehan USD? Coba saja tanyakan pada supirnya apakah kamu bisa bayar menggunakan USD. Umumnya mereka akan meng-iya-kan. Ketika di sana, saya pernah bayar taksi dengan Kyat maupun dengan USD. Bahkan pernah saya naik taksi bayar dengan USD tapi minta kembalian dalam Kyat. Begitu juga ketika saya membeli barang di toko souvenir di hotel tempat saya menginap maupun di bandara. Mereka memasang harga dalam Kyat tapi saya bisa bayar dengan USD, dan juga sebaliknya, mereka memasang harga dalam USD tapi saya bisa bayar dengan Kyat. Jadi, kalau bisa bawa juga USD dalam pecahan kecil untuk jaga-jaga misal kamu kehabisan uang Kyat.

4. Sarung?

sarung

Masyarakat setempat menggunakan longyi

Pas saya sedang mengantri imigrasi untuk keluar bandara Yangon, saya melihat banyak pria bersarung berkeliaran di bandara. Lho ini apa sih pada pakai sarung, pada mau sholat berjamaah apa gimana? Tapi emang banyak muslim gitu di Myanmar? Demikianlah yang saya pikirkan, sampai saya melihat beberapa wanita di bandara juga mengenakan sarung. Belakangan saya tahu kalau yang kita bilang “sarung” itu ternyata di sana dinamakan longyi. Longyi adalah sarung pakaian tradisional yang mereka pakai dalam berkegiatan sehari-hari. Di bandara, di hotel, di jalan, di manapun kamu bisa melihat pria dan wanita berseliweran menggunakan longyi. Tapi saya belum lihat sih ada yang olahraga lari pagi pakai longyi. *menurut ngana*

5. Setir kanan, jalur kanan

Setir kanan, jalur kanan

Setir kanan, jalur kanan

Biasanya kalau setir mobil ada di sebelah kanan, jalur mobilnya dirancang di sebelah kiri. Dan sebaliknya, kalau setir mobil di sebelah kiri, maka jalur mobilnya dirancang di sebelah kanan. Tapi tidak begitu keadaannya di Yangon. Setir mobil di sebelah kanan, dan jalur yang dipakai juga sebelah kanan. Memang sih ada beberapa mobil saya lihat setirnya sebelah kiri, tapi kebanyakan mobil di Yangon menggunakan setir kanan. Ini yang saya rasa belum pernah saya temui di negara lain. Berarti kalau mau turun dari mobil, bilangnya jangan “Kiri, Pak!” ya! 😛

6. Oldest pagoda in the world!

shwedagon

Shwedagon Pagoda

Sebagai ibukota dari Negeri Seribu Pagoda, tentunya Yangon juga memiliki pagoda. Dan pagoda yang paling terkenal di Yangon adalah Shwedagon Pagoda. Shwedagon Pagoda ini adalah pagoda yang terbesar di Myanmar. And it turns out that it’s the oldest pagoda in the world! Menurut legenda, pagoda berwarna keemasan ini sudah ada dari 2600 tahun yang lalu. Whoa!

7. Nggak pakai argo dan nggak pakai AC

tarif taksi

Daftar tarif taksi di bandara

Ternyata taksi yang nggak pakai argo itu nggak cuma ada di Indonesia saja, kawan. Taksi di Yangon pun tidak menggunakan argo. Terus nawarnya gimana dong? Well, kalau kamu naik taksinya di bandara, kamu tidak perlu khawatir karena ada papan informasi fare taksi ke beberapa tempat umum, seperti misalnya dari bandara ke pusat kota seharga K7000. Tapi kalau naik taksi di dalam kota, mau tidak mau harus tanya harga dan (kalau memungkinkan) nawar.  Saran saya sih, minta bantuan staf hotel untuk menanyakan harga ke supir taksi, kalau kamu naik taksi dari hotel. Tapi kalau kamu naik taksi waktu di jalan, dan ternyata supir taksinya tidak bisa berbahasa Inggris, bersiaplah untuk menawar harga dalam bahasa Tarzan. 😀

jendela taksi

Taksi dengan jendela terbuka dimana-mana

Lalu, saya perhatikan kebanyakan taksi di Yangon membuka jendelanya lebar-lebar, pun ketika membawa penumpang. Tapi saya juga sempat melihat beberapa taksi yang menutup jendelanya. Saya jadi berpikir, apa kalau naik taksi dengan menutup jendela, which means pakai AC, harganya jadi nambah ya? Soalnya kan taksinya nggak pakai argo, jadi mungkin saja toh ada tambahan harga? *sotoy abis* Jadi kalau kamu naik taksi di Yangon, coba tawar harga, naik taksinya setelah deal, lalu minta nyalakan AC, lalu beritahu saya harganya berubah atau tidak, hehehe.

8. Olahraga di tengah danau

olahraga danau

Olahraga pagi lintas Kandawgyi Lake

Yes, kamu bisa olahraga di tengah danau di Yangon. Tepatnya di Kandawgyi Lake, danau yang terbilang cukup besar untuk danau yang berada di tengah kota. Jembatan kayu yang dibangun melintasi danau ini dapat digunakan untuk jogging atau hanya sekedar jalan pagi. Bahkan di hari kerja pun danau ini tidak sepi dari kunjungan warga yang berolahraga di pagi hari. Pemandangan yang mungkin jarang kita lihat di Jakarta ya? 😉

9. Burmese coconut chicken noodle soup

chicken noodle

Burmese coconut chicken noodle soup porsi diet 😎

Satu makanan khas Myanmar yang saya coba waktu di Yangon adalah Burmese coconut chicken noodle soup. Simpelnya, mie ayam pakai santan. Kalau di Indonesia, mungkin padanannya mie celor Palembang ya, karena sama-sama menggunakan santan. Tapi apakah mirip dari segi rasa itu saya kurang tahu, karena saya belum pernah coba makan mie celor hehe. Taste-wise, quite unique, in a good way. Seperti makan kari ayam, tapi pakai mie dan telur rebus. Sayangnya saya tidak bisa merekomendasikan restoran mana di Yangon yang menyajikan coconut chicken noodle soup yang maknyus, karena saya mencobanya waktu sarapan di hotel. *iya memang saya kurang menjajal wisata kuliner Myanmar waktu itu, hiks*

10. Visa masuk Myanmar

Betul, kamu nggak salah baca. Butuh visa untuk masuk Myanmar, meskipun itu turis dari sesama negara ASEAN. Efek dari negara yang baru opening up? Ya bisa jadi. Jadi jangan sampai lupa untuk mengurus visa ya kalau kamu mau berkunjung ke Myanmar. Sebenarnya ada fasilitas visa on arrival di Yangon International Airport, tapi akan lebih baik kalau kamu cari tahu dulu pros & cons sebelum memutuskan untuk mengurus visa Myanmar ketika di Indonesia atau nanti sesampainya di bandara Yangon.

Itu tadi 10 hal menarik tentang Myanmar pada umumnya dan Yangon pada khususnya versi saya. Mungkin nanti kalau kamu menjelajahi Yangon bakal menemukan hal menarik lainnya. Share ya ceritanya! Mingalabar!2

2Greeting dalam bahasa Myanmar yang artinya “May you be (filled) with auspiciousness”

Iklan

4 pemikiran pada “10 Hal (Yang Mungkin Kamu Belum Tahu) Tentang Yangon

  1. salah satu yang berkesan, dari terminal domestik ke internasional di bandara Yangon, saya harus keluar ke jalan utama dulu baru masuk lagi, padahal gedungnya bersebelahan… 😀 panas terik lagi!

    • Wahh kemaren saya ngga sempat nyicipin bandara domestiknya nih mba, cuma bentar banget di yangon hiks. Iyaa panas ya disana..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s