Napak Tilas Sang Juragan Kretek

House of Sampoerna

House of Sampoerna

Ketika mendengar atau membaca kata “kretek”, apa yang terbersit di benak kamu? Kalau saya sih langsung terpikir “Dji Sam Soe”. Yah memang saya nggak tahu merek rokok kretek lainnya sih hehehe. Dji Sam Soe itu punya Sampoerna kan ya. Nah, tahu nggak kalau Sampoerna punya museum namanya “House of Sampoerna”? Sampoerna punya museum ini letaknya di kota Surabaya. Sekitar setahun yang lalu saya berkunjung ke Surabaya berkat training yang diselenggarakan oleh departemen tetangga di kantor saya. Mumpung lagi di Surabaya, saya pikir sekalian saja saya sambangi museum yang pernah dinobatkan sebagai salah satu museum terbaik oleh sebuah majalah ini. (ngomong-ngomong saya lupa majalah apa hehehe) 

Layaknya sebuah museum, House of Sampoerna membawa kita menapak tilas. Napak tilas perjalanan hidup sang juragan kretek, Liem Seeng Tee dan keluarga, serta usaha yang dirintisnya. Begitu melangkahkan kaki masuk ke dalam museum, saya disambut dengan replika warung pertama Seeng Tee. Diceritakan bahwa Liem Seeng Tee dan istrinya Siem Tjiang Nio memulai usahanya dengan menyewa warung kecil di suatu daerah kota tua di Surabaya. Di warung itu mereka menjual bahan makanan pokok dan produk tembakau untuk mencari nafkah. Liem Seeng Tee juga menjual produk tembakau dengan bersepeda menyusuri jalan-jalan di kota Surabaya. Inilah cikal bakal berdirinya perusahaan Sampoerna.

Warung pertama Liem Seeng Tee dan istri

Sepeda yang dipakai Seeng Tee berjualan keliling

Sepeda yang dipakai Seeng Tee berjualan keliling

Dekat replika warung pertama Seeng Tee dipajang replika dari oven pengeringan tembakau. Di sini saya baru tahu kalau para petani tembakau, khususnya di Lombok, menggunakan oven yang disusun dari batu bata ini untuk pengeringan tembakau. Tembakau yang telah diikat oleh petani digantung di tiang bambu yang ada di dalam oven untuk dikeringkan. Saya pun lanjut masuk lebih jauh ke dalam museum. Di salah satu pojok ruangan terdapat display dengan penampakan serupa laboratorium kimia. Di sana terpampang berbagai jenis tabung kimia mirip dengan yang pernah saya lihat di lab kimia SMA saya dulu. Ternyata yang nampak seperti “lab kimia” itu adalah sistem R&D (research & development) sederhana yang digunakan pada masa awal dirintisnya usaha produk tembakau Seeng Tee.

Oven pengeringan tembakau

Oven pengeringan tembakau

R&D sederhana untuk eksperimen pembuatan rokok

R&D sederhana untuk eksperimen pembuatan rokok

Masih di area yang sama di lantai dasar, terpajang mesin yang pernah digunakan untuk mencetak bungkus rokok Dji Sam Soe. Di bagian samping mesin itu diletakkan pelat yang menjadi base cetakan bungkus rokok. Di tengah ruangan tersebut juga dipamerkan berbagai macam plat cetakan bungkus rokok dengan berbagai macam desain. Nggak dijelaskan lebih detil bagaimana proses pencetakannya sih, tapi dengan melihat pelatnya saya  membayangkan bungkus rokok zaman dulu dibuat dengan semacam dicap mixed di-press. Jadinya berwarna dan emboss gitu. Loh kok jadi keren ya bungkusnya? Hahaha.

Mesin pencetak bungkus rokok

Mesin pencetak bungkus rokok

Pelat cetakan bungkus rokok Dji Sam Soe

Pelat cetakan bungkus rokok Dji Sam Soe

Lanjut ke lantai dua. Area lantai dua museum lebih ter-occupied dengan kain batik dan berbagai souvenir bertema Surabaya seperti kaos, pin, dan souvenir lainnya yang bisa kamu beli sebagai oleh-oleh. Dari lantai ini pula kamu bisa melihat atraksi pembuatan rokok Dji Sam Soe oleh tenaga kerja Sampoerna. Atraksi? Iya, jadi kalau kamu datang ke House of Sampoerna pada hari kerja dan jam kerja, kamu bisa melihat langsung pembuatan rokok Dji Sam Soe yang digulung manual (hand-rolled) oleh para pekerja. Pembuatan rokok kretek ini dilakukan di lantai bawah, sedangkan pengunjung melihatnya dari lantai atas melalui kaca. Sayangnya waktu itu saya berkunjung ke sana pas malam hari, jadi saya nggak bisa nonton langsung atraksi itu.

Oh iya, selain cerita-cerita mengenai perkembangan usaha Sampoerna, di museum ini juga diperlihatkan “sisi lain” dari Sampoerna. Seperti misalnya, Sampoerna ternyata pernah memiliki gedung theater yang sangat ternama di masa kejayaannya. Theater itu dulunya bernama Bioskop Dapoean, yang gedungnya sekarang dijadikan House of Sampoerna ini. Beberapa koleksi Sampoerna Theater pun mejeng di dalam museum. Di dalam museum juga terpajang seperangkat alat Marching Band Sampoerna, di mana marching band ini pernah mewakili Indonesia pada perlombaan Tournament of Roses di California, Amerika Serikat, tahun 1990 dan 1991, dan dimainkan oleh 234 orang pekerja pabrik. Keren ya?! Lalu di area sekitar alat marching band itu diperdengarkan lagu yang dimainkan oleh Marching Band Sampoerna saat mengikuti perlombaan Tournament of Roses.

Beberapa koleksi Bioskop Dapoean

Beberapa koleksi Bioskop Dapoean

Marching Band Sampoerna

Marching Band Sampoerna

Selain itu, beberapa sudut museum dihiasi dengan gambar poster iklan rokok keluaran Sampoerna dan juga iklan acara-acara yang disponsori oleh Sampoerna. Di dalam museum juga tersedia replika warung / kios rokok yang bisa digunakan untuk narsis lho hahaha! 8)

Dinding penuh poster Sampoerna

Dinding penuh poster Sampoerna

Ngitung duit hasil jualan :P

Ngitung duit hasil jualan 😛

House of Sampoerna nggak cuma memajang barang-barang koleksi yang menceritakan sejarah perkembangan usaha sang juragan kretek ini. Di dalamnya juga terpajang foto dan barang yang berkaitan dengan kehidupan pribadi keluarga Seeng Tee. Seperti misalnya, koleksi lama kebaya istri Seeng Tee dan juga piala kejuaraan berkuda yang dimenangkan oleh joki yang dipekerjakan oleh anak Seeng Tee yang tertarik dengan dunia berkuda.

Kalau kamu mau berkunjung ke House of Sampoerna, House of Sampoerna ini letaknya di dekat bekas penjara Kalisosok, Surabaya. Disarankan untuk datang pada hari kerja di antara jam 9 pagi hingga jam 3 sore, karena pada jam tersebut lah kamu bisa menonton atraksi pembuatan rokok Dji Sam Soe. Sedangkan House of Sampoerna itu sendiri buka setiap hari dari jam 9 pagi hingga jam 10 malam. Keterangan lebih lengkapnya bisa kamu lihat di situs House of Sampoerna.

Mungkin ada yang berpikir begini: “Ke House of Sampoerna? Tapi gue kan nggak ngerokok. Ntar gue disangka ngedukung rokok lagi.” (berlebihan yak? hahaha) But look at it from the other side. Kamu bisa lihat gimana pendiri dan pengelola House of Sampoerna ini begitu menghargai sejarah, dengan menjadikan gedung yang pernah menjadi bioskop terbesar dan ternama pada masanya menjadi museum yang sangat apik yang menceritakan sejarah salah satu perusahaan besar dan ternama yang ada di Indonesia. Gedung bersejarah yang menceritakan sejarah. Menarik bukan? Dan, ini yang lebih penting, free of charge. Tambah menarik kan? 😆

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s