Menjelajah Gua Jomblang

“Ayo dong, sinar mataharinya cuma sampai jam setengah 12 nih! Kalau kelewatan, mau lihat apa kita di dalam?!” seru salah seorang teman kantor saya. Saya melirik jam tangan saya. Jam 09.30. Dan posisi kami saat itu masih di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Oh no!

Pagi itu rombongan kami berkumpul di Bandara Adisutjipto untuk berangkat bersama-sama menuju Gua Jomblang. Sebagian besar sampai duluan di Yogya Sabtu dini hari karena pergi menggunakan kereta, sedangkan sisanya baru menapakkan kaki di tanah Yogya sekitar 7-8 jam berikutnya. Akhir pekan itu kami berencana untuk bertualang menyusuri perut bumi di bagian selatan Yogya, yang dimotori oleh komunitas outdoor activity di kantor saya. Yah, memang kegiatan adventurous macam ini sudah menjadi “makanan”-nya para pegiat kegiatan outdoor di kantor saya ini.

“Sudah lengkap, kan? Ayo Pak, kita jalan. Biar mobil ini yang memimpin rombongan.” Mendengar komando itu, supir di mobil yang saya tempati bergegas menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya. Sang supir pun memacu mobil dan mulailah perjalanan kami menuju Kabupaten Gunungkidul.

Untungnya kondisi jalanan Yogya cukup bersahabat pagi itu. Mulai dari jalanan dalam kota hingga jalanan berliku menuju Gunungkidul, cukup lengang seolah mendukung kami untuk bisa menikmati salah satu karya Tuhan Yang Maha Kuasa di alam Indonesia tercinta ini. Iring-iringan mobil kami menembus jalanan yang menanjak dan berliku, dikelilingi oleh ribuan pohon hutan Wanagama yang berada di area Gunungkidul. Sekitar 1.5 jam kemudian, terlihat plang dari kayu bertuliskan “Gua Jomblang”. Tanda bahwa kami hampir sampai di tempat tujuan.

Dan kemudian Jomblang Resort pun menyambut kami. Jomblang Resort menjadi base camp kami pada trip kali ini. Setelah menurunkan tas dan barang bawaan, kami tak bisa berleha-leha terlalu lama, karena sekumpulan mas-mas operator sudah menanti dan siap membantu kami memasang peralatan untuk turun ke dalam gua.

Turun? Yup, Gua Jomblang ini merupakan gua vertikal, yang terbentuk akibat ambles-nya tanah beserta vegetasi yang ada di atasnya ke dasar bumi yang terjadi ribuan tahun yang lalu. Runtuhnya tanah ini akhirnya membuat sinkhole, yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah “luweng”. Sehingga kemudian terbentuklah gua dengan diameter mulut sekitar 50 meter yang juga sering disebut dengan nama Luweng Jomblang ini.

“Hari ini sinar mataharinya sampai jam 1-an kok,” kata Mas Adi, guide kami hari itu, di tengah-tengah kesibukan kami memasang harness. Lebih tepatnya dipasangkan, sih. Fiuh, kami lega, karena artinya kami masih sempat mengejar waktu untuk melihat sinar matahari yang ada di dalam gua.  Setelah selesai memakai set harness, sepatu boots dan helm, kami segera berjalan menuju mulut gua. Di sana sudah tersedia seperangkat alat yang akan membantu kami turun ke dalam gua. Dekat dengan alat tersebut, terdapat papan informasi yang dibuat bagus oleh Pemerintah setempat tentang Luweng Jomblang.

Bersiap untuk turun ke dalam Gua Jomblang!

Bersiap untuk turun ke dalam Gua Jomblang!

Let's take a groufie in front of Gua Jomblang!

Let’s take a groufie in front of Gua Jomblang!

Sebenarnya terdapat beberapa jalur yang bisa dilewati oleh pengunjung untuk masuk ke dasar gua. Kami diarahkan untuk masuk melalui jalur dengan kedalaman 60 meter. Kami pun diturunkan bergiliran. Sekali giliran, dua orang diturunkan bersamaan. Saya membayangkan berapa beban yang harus ditahan setiap menurunkan kami-kami ini. Wew.

(Di)turun(in) ke dalam Gua Jomblang

(Di)turun(in) ke dalam Gua Jomblang

Mengintip bibir gua Jomblang dari bawah. Terlihat kan rimbunnya vegetasi di area bawah?

Mengintip bibir gua Jomblang dari bawah. Terlihat kan rimbunnya vegetasi di area bawah?

Sembari menunggu seluruh anggota rombongan turun, kami menunggu di area yang dipenuhi pepohonan kecil. Mas Adi bercerita, area tempat kami berdiri itu dulunya berada di permukaan yang kemudian ambles sehingga terbentuk lubang, atau luweng. Berbeda dengan kondisi tanah di permukaan atas yang relatif kering, tanah di Gua Jomblang cukup subur dan banyak ditumbuhi oleh tanaman. Bisa dibilang sungai yang berada di bawah tanah yang ada di area Gunungkidul ini yang menyebabkan tanah di area bawah lebih subur. Bahkan ada tanaman yang hanya ada di Gua Jomblang, dan tidak tumbuh lagi di permukaan atas.

Setelah semuanya turun, kami bergerak masuk ke dalam gua. Kami berjalan menyusuri lorong gelap di dalam gua. Saya pikir jalur yang akan kami tempuh adalah tanah berbatu, namun ternyata tanah becek. Pantas saja disediakan sepatu boots oleh operator caving. Dan untungnya ada jalan batu yang disiapkan, mungkin oleh operator caving, sehingga memudahkan penjelajahan di dalam lorong gua.

Masuk ke dalam lorong gua

Masuk ke dalam lorong gua

Tidak lama kemudian, sampailah kami di “sinar matahari” yang dimaksud dari tadi. Di ujung jalur penjelajahan, ada seberkas cahaya matahari yang menembus lubang gua vertikal lainnya, Luweng Grubug. Lorong sepanjang 300 meter yang kami lalui tadi menjadi penghubung antara Luweng Jomblang dan Luweng Grubug. Lalu, “sinar matahari” yang dimaksud tadi kenapa ada jam-jamnya? Jadi, di dasar Luweng Grubug terdapat sebongkah batu besar, dan pada jam tertentu sinar matahari yang masuk akan jatuh pas di atas batu tersebut. Fenomena alam yang sangat bagus dan sayang untuk dilewatkan. Sayang untuk tidak dilihat mumpung di sana, dan tentunya sayang kalau tidak diabadikan dengan berfoto-foto, hehe.

Orang menyebutnya "cahaya dari surga"

Orang menyebutnya “cahaya dari surga”

Omong-omong, sebenarnya para penjelajah juga bisa turun masuk melalui Luweng Grubug. Namun karena lebih tinggi dari Luweng Jomblang, yaitu sekitar 90 meter, dan lebih sulit medannya, maka disarankan yang boleh turun lewat Luweng Grubug adalah orang yang lebih berpengalaman dalam caving.

Suasana dalam Luweng Grubug

Suasana dalam Luweng Grubug

Sungai bawah tanah di dalam Luweng Grubug. Sungai ini tembus sampai Pantai Baron!

Sungai bawah tanah di dalam Luweng Grubug. Sungai ini tembus sampai Pantai Baron!

Antri foto di atas batu Luweng Grubug? Foto aja dulu!

Antri foto di atas batu Luweng Grubug? Foto aja dulu!

Tekstur batu besar ikon Luweng Grubug. Artistik ya?

Tekstur batu besar ikon Luweng Grubug. Artistik ya?

Maksud hati foto keren di atas batu ikon Luweng Grubug. Apa daya cahaya mataharinya sudah bergeser.

Maksud hati foto keren di atas batu ikon Luweng Grubug. Apa daya cahaya mataharinya sudah bergeser.

Puas berfoto ria dalam Luweng Grubug, kami pun diajak untuk kembali ke resort. Kami berjalan kembali melalui lorong dalam gua, kembali ke Luweng Jomblang. Ternyata kami akan ditarik naik melalui jalur dan dengan cara yang sama ketika kami turun tadi. Sambil menunggu giliran, saya sempat bertanya-tanya, entah berapa besar tenaga yang harus dikerahkan untuk menarik 2 orang naik sekaligus. Begitu sampai atas, ternyata ada sekitar 10 orang yang menarik tali yang mengangkut kami ke atas. Wow!

Welcome to Gua Jomblang!

Way in, way out.

Caving Gua Jomblang ini seru dan menarik untuk dilakukan. Aksesnya pun tidak sulit. Dan sebagai tambahan informasi, Gua Jomblang masuk menjadi salah satu spot tantangan yang dikunjungi oleh kontestan reality show Amerika, The Amazing Race, pada tahun 2011. Jadi, wahai para pemilik jiwa petualang, tunggu apalagi? Mari menjelajah Gua Jomblang!

Ketika siluet semua orang terlihat seperti siluet Magneto di dalam Luweng Grubug

Mau foto siluet seperti siluet Magneto? Datanglah ke Luweng Jomblang dan Luweng Grubug!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s